Sunday, August 31, 2008

Suara dari Harau: Esha Tegar Putra*


Suara Lembah


— fina sato



*
barangkali ‘kan kau dengar sesuara yang tiba menuba
terhela angin lembah harau, sebab segala tumbuh melahirkan bunyi kayu
melahirkan geletar sengau getah matoa hingga padam wangi gaharu.
barangkali ‘kan kau dengar sesuara yang tiba menghiba
terhela angin lembah harau, sebab segala sesuatu beranjak dari laut
beranjak dari sedap daging kerang dan tiram, apalagi gaung ombak.
barangkali ‘kan kau dengar sesuara yang tiba berpesan
terhela angin lembah harau, sebab segala bahasa dirapal secara kabut
dirapal merupa isyarat ladang yang menyimpan ragam ingatan lembab.

**
rapalan bahasa kabut, rapalan isyarat ladang
merupa kalimat angin yang menyimpulkan
tali puisi bakal bekal pembenaman dari diamnya
bunyi kayu. tapi siapakah itu, sesuara yang
tertarik pelan dari dasar pasir, sesuara yang
berani bersunyi di simpulan gaib kabut lembah,
tanah persemayaman raja putih? (kukira cuma
pitunang ngilu si penggetah burung rimba yang
menikmati kopi siangnya sambil menyaksikan
sekawanan beruk bermain-juntai di dahan batang
durian) suara itu beranjak aneh, seolah
menggumamkan sebuah ingin.mungkin berharap
terhela dari genggaman lembah.
rapalan bahasa kabut berupa tumpak-tumpak
tanah yang ditinggal pergi tempias hujan pagi.
rapalan isyarat ladang menyetujui jalur air yang
beranjak susut ke arah laut. semua menggema
bahasa semua menggema rapalan kalimat buta,
berkelana mengikuti gilanya angin lembah


Lembah Harau, 2008




[*] Terima kasih, Esha...

Telah kau tuntaskan pula janji petang itu; puisimu untukku...



Monday, August 11, 2008

[sayembara] LOMBA MENULIS PUISI DISBUDPAR JABAR

Deadline: 30 Agustus 2008


Dalam upaya pengembangan bahasa dan sastra daerah serta untuk membuka ruang bagi kreativitas karya sastra daerah dan Indonesia, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan lomba menulis puisi berbahasa Sunda, Cirebon, Melayu-Betawi, dan Indonesia.

· Lomba ini terbuka untuk masyarakat umum berusia 15 s.d 25 tahun.
· Peserta boleh mengirimkan puisi maksimal 3 (tiga) judul ditulis dalam bahasa Sunda, Cirebon, atau Melayu-Betawi/ Indonesia.
· Puisi dikirim 4 rangkap difotokopi masing-masing empat lembar, dilampiri biodata dan fotokopi KTP atau kartu tanda pengenal lainnya.
· Dari setiap kategori bahasa, akan dipilih pemenang I s.d III, harapan I s.d III.
· Para pemenang akan mendapat penghargaan berupa piagam penghargaan, trofi, dan uang pembinaan. Total jumlah hadiah Rp. 36 juta.
· Panitia akan membuat buku kumpulan puisi/ sajak hasil karya peserta lomba yang terpilih atas penilaian dewan juri. Karya dikirim paling lambat akhir Agustus 2008, dialamatkan ke:

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
cq Subdin Kebudayaan,
Jalan L.L.R.E. Martadinata No. 209 Bandung



Sumber: H.U. Pikiran Rakyat

[sayembara] Antologi Puisi se-Asia Tenggara

Deadline: 30 Agustus 2008


Dalam rangka silaturahmi penulis muda se-Asia Tenggara, Hudan Production mengundang karya puisi andika sebanyak 20 judul ke sebuah antologi bersama ke alamat:

Hudan Production,
Jalan Bina Putra No. 40 Guntung Payung Kota Banjarbaru
Kalimantan Selatan 70721 Indonesia.

Sertakan juga biodata dan foto dalam bentuk cd.
Paling lambat 30 Ogos 2008.
Ada sejumlah 200 penulis muda ASEAN di bidang puisi.
Launching digelar di Vietnam awal 2009.
Salam sastra.




Sumber: Acep Zamzam Noor

Sunday, August 03, 2008

[sajak] Menuba Kampar*


pulanglah


waktu kini kerontang menjalar jua ke sungai-sungai. kian timpas dan lemas
tebing-tebing merenjis derap-derap dahaga di hampar pasir putih
saat ikan-ikan memecah lagu terik matahari di hulu-hulu sungai
kau melayah liar pejal bagai tali ari-ari. berlunau lesir menyusuri jejak-jejak raja
di sanalah puan dan tuan bersenda mengajuk hati memadu janji
marilah ikut melarung adat pada rincik bisik si adik kakak
kita yang menuba di tepian membawa serta asahan julir dan siampang
dipasang tungkai si langgi dan sauk-sauk
lalu kau mengayuh petang ke hulu gegas siaga, berkisar pada arus
lupakah kau kayuh janji yang ingkar di mata ayah
atau larung luka yang biru di hati ibu, maka selalu dan selalu kami tak salah berucap kalah

pulanglah


tuanku yang mengayuh sampan ke hulu sungai
bertongkang tiga hari tiga malam sudahlah cukup melabuh air tuba
kita akan bertambat sejurus makan ala kadarnya, dan selalu kemudian tiba
turutkanlah hanyut tuba di rasa iba, di kukup alir sungai yang mabuk tiada
anak pantau pun tak timbul dalam lindap yang bisu dan pandang mata
waktu kian ligat menggasing ke gugus teluk bermuara sia-sia,
hari-hari telah lewat, semakin tiada. hanya baung mengaung di teluk tempurung
arus kita yang semakin larut ke arung memamah murung
lelakon mana yang membawa jeri tiada dalam kurung?

pulanglah


arus demi arus adalah sesia. muara demi muara hanya tiada
kita bukan pawang pebara kabul di rengas tujuh penuh mambang tuah
kau hanya mampu menyepit nibung puaka yang akhirnya lepas jua ke muara
karena waktu pun kian dangkal bergelombang tak dapat jadi binasa
hanya lening perut bergenta, bermalam-malam mengasih sakit yang lampau
lalu terjelapak membentang kajang ke waktu magrib yang gasal
ingatkah engkau dalam gugus mimpi kita yang lupa bertabik sapa?
usah kita kini meratap malu, dongeng yang tamat pada nasihat
kita hanya berpagan pada bayang-bayang sepanjang badan

pulanglah




Bentala, 2008


(*) Pemenang Puisi Terbaik II Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR), Indonesia 2008

Thursday, December 27, 2007

Menikahimu di Bulan Desember


: sajak nikah bagi iyut & zarni*


bulan basah. telah luluh jua di selasela jarimu
dari sajak pemintal katakata senja di kebun belakang
kursi bambu penuh paku dan pohon kersen merona
menjadi lukisan nagari yang menyimpan tabun sunyi di telotak hidupmu
sayup gemerincing hujan mengirim doa panjang pada upacara hawa
mencuci kaki telanjang sang perawan
di jenjang tangga pintu depan

mari, kita ikatkan sulursulur kenangan
jahitkan menjadi gaun indah dengan warna yang berbeda
riwayat pertemuan penuh cinta pada alun liuk tubuhmu
dari lelaki yang melagangkan litani perjalanan
karena ia tak mampu melawan rindu penantian
hanya kepadamu
; aubade yang bernama perempuan

“kini kukembalikan tulang rusukku. simpanlah baikbaik,
di ranjang pertama anakanak kita”

di waktu ini kau akan selalu tinggal. menetap dalam tepian
belajar dari catatan percintaan yang baru
mengubur perpisahan yang senantiasa kausiapkan dalam perantauan
pulanglah. karena perempuan jelmaan air mata ibu
melingkar setia di halaman rumah
menjadi desember yang lindap dalam rincik hujan
dan cermin kolam yang selalu bercahaya kunangkunang
lalu selebihnya adalah malam perjanjian
pada lukisan pengantin

kini di tubir pagi yang basah
seorang pengembara mengembun kisah perjalanan baru
karena setelahnya lagu aroma kopi tak melanggam sendiri




November, 2007



KETERANGAN:
(*) pernikahan: 23 Desember 2007,
selamat berbahagia, bung kuyut!
tabik! (^_^)Y

Sajak Sederhana dari Om Gus (Gus tf Sakai)


: refleksi Catatan Laut #1


pada kesunyian arah kayuhmu labuh
dihentakkan jiwajiwa sauh
kembali pada
kebiruan ikanikan




[01/11/07-17:15]

Thursday, July 05, 2007

Narasi dari Semenanjung Muria


di muria, lagu sendu akan didendangkan
ikanikan menari tangisi kabar kematian
“kau dapat menziarahiku empat puluh tahun
kemudian...”
laut pucat memusim kemarau
membakar nasib yang kini ranggas
karangkarang kelak menjadi pawak
dari gununggunung belah


ada yang perlu dicatat, tuan
dari episode kisah masa silam
saat chernobyl merayakan puncak riak
pesta kematian
dan kini anakanak hanya dapat
berceloteh menangisi kenangan
dari sisa lagu ziarah yang belum selesai
di kota hantu
“inilah balada kesakitanku...”

angin mengenduskan siasat
orangorang di balik kursi panjang
menurbin sejarah
tapaktapak lemah abang jadi jabang parang
semenanjung koyak menjadi aroma radiasi
dan orangorang memelihara limbah bertahuntahun
menjadi panen bacin yang subur
laut hambar dan tanah mengampas
lalu bagaimana nyawa abad dapat dipelihara?
waktu hanya dapat menerjemahkan siasia

di muria, lagu sendu akan didendangkan
ikanikan menari tangisi kabar kematian
“kau dapat menziarahiku empat puluh tahun
kemudian...”




bumi singgah,
2007

Tuesday, June 12, 2007

Catatan Laut #1



Hari ini aku serasa telah mencium bau garam. Mungkin angin telah membawanya dengan tualang. Kadang pelan, kadang tergesa. Bau garam, pasir, kepak helai sayap camar—dengan lengking suaranya, seakan hanya berjarak satu inci dari telingaku. Kura-kura menyelinap dalam pekat di antara jejak-jejak mata yang sayu. Seabad ia dapat hidup. Menyelinap juga dalam pikiranku, berapa kenangan yang akan dia dapat dalam seabad?

Laut dan sendiri. Rasanya terasa karib bagi beberapa orang. Namun bagiku, ia tumbuh menjadi sebuah kerinduan. Kerinduan pasang surut.

Laut dan sunyi. Atau mungkin tepatnya, pantai sunyi. Ketika kabut menutup rambut-rambut gelombang, pasir-pasir bangun, dan udara sedikit demi sedikit memuai. Gelombang arus bertanya, mengucap sapa. Sungguh, kerinduan yang seperti ini yang selalu timbul tenggelam.

Setiap kali aku melihat laut, melihat garam yang biru, sunyi nan rindu ini terasa kian sesak. Segenggam udara seakan membuncah dalam kantung tanpa katup. Sesak, kaswah, dan rapat. Kenangan-kenangan melesat kabur menjadi episode, cuplikan, atau fragmen bisu. Seakan aku tengah melaju di jalan raya tanpa satu pun kendaraan yang melintas di sana. Melaju kencang dan setiap beberapa meter akan terlihat marka-marka penunjuk jalan. Simbol-simbol atau mungkin papan-papan kenangan. Tapi, aku selalu tak tahan melihatnya. Sesak!

Laut. Angin garam. Bebutir pasir warna putih itu kini melekat menutupi bibirku. Angin debur memekak kenangan. Aku ingin menjumpamu segera tapi endap rindu ini sungguh sesak. Sesak! “Laut, entah kapan aku dapat menemuimu...”

Wangi laut. Sungguh terasa ia memanggil, menyeruku. “Datanglah! Datanglah segera! Kau hanya dapat merindu dan tanpa pernah menjumpaku”. Sungguh, kerinduan ini karib dan aku menikmatinya dengan nyaman dan gelisah. Atau ketakutan yang sebenarnya hanya hidup dalam bayanganku saja. Dalam duga.

Sungguh, kisahku di atas hanya sebatas fatamorgana. Catatan ini hanya sebatas kepalsuanku saja tentang laut. Bahkan untuk menyentuh sebutir pasir saja adalah kenyataan yang hidup dalam delusi. Kurang lebih telah belasan tahun dari hari ini, aku belum pernah lagi mencium wangi garam. Namun, secangkir teh hangat yang tidak terlalu manis telah membuatku pulang kembali ke ruang singgah ini.



June 2007
(inspiration after watched LOGGERHEADS)

Thursday, April 05, 2007

Sajak Ultah dari Zai Lawanglangit


Apalagi Mesti Kucatat?
: fina


sementara waktu masih berbingkai penat
kurasakan getar senyummu
berarak melintasi langit yang kelabu
dan selarik kabar menampar
di tengah khusyukku
"hari ini aku ultah" katamu

kulihat hari mengeras
dan jejakmu menyelinap
di antara celah sajak yang koyak
mungkin tak cukup
kau rayakan bahagia itu sendiri saja



2007

Kelindan Sajak Andung


satu, hutan lengang

ini tentang hutan yang telah dewasa, andung
hijaukan kampung yang masih jarang. masih kecil dan miskin. juga
setelah ayahmu pamit tempo hari dari hutan-hutan fana
dan lengang kalakian jadi epitaf yang terpahat rapi di catatan perjalananmu
berikutnya
waktu tak gulana seperti jua kau tak mengeluh tentang nasib, pun ibumu
sebagaimana nasib tertanam di hutan menjelma gudang-gudang kayu bakar,
kebun-kebun buah dan ladang-ladang sayuran
kersak rerumput belukar menjejak rintis pintu reranting jendela
dan rimbun dedaun atap kian sorak-riang menyambutmu dalam musim
berangkat dan pulang
hari jadi siang kau menepi ke pasar-pasar. hari jadi petang jadi esok jadi lusa
tanpa kesah atau lelah. begitulah juga kemudian, andung
kausapu asuh jari jemari kisut ibumu pada tiap jenjang waktu

hutan tak berkunci. orang-orang gegas masuk ke dalam sunyi
dan bukankah kala petang ia—hutan berubah seraut misteri?
kau ingat lenguh kalimat tertinggal di nun, “ibu sakit andung... susurilah sunyi
sendiri”
dan dalam alamat pulang kaudengar jeritan lelaki tua itu
melempar gaung lewati bebatang pohon menubi gendang telingamu

oi andung! temukanlah lantun dendang sakitku dari banir jerit kaki yang
terhimpit!

kini atma mengharu dari jeri lelaki tua pada akar pasak bumi,
mengunci. pepohon kembali ribang-lindap sendiri pada kelu musim sunyi
lelaki tua berkata, “dan seutas kalung ini untukmu andung”
cuaca meragu di raut lugu di simpang jalan pada pertemuan nan asing
usah resah karena halau waktu dari gelimun ragu adalah membagi kisah yang
tak pernah kau tahu
ambillah dan kabarkan pada kepulangan yang terlambat dari ranap penantian
karena cemas ibu serupa riwan jentaka di pondok rindu


dua, kepergian

ini tentang rantau yang telah tumbuh, andung
tak ubahnya kota yang menggelembung di angan-anganmu tentang judi nasib
tentang dahagi peta-peta yang belum terbaca dari sisa matahari dari jejak bulan di mimpi kampungmu maka malam kisruh pada tangis ibu
hingga kembara yang konon melepas anak-anaknya pergi tak jua kembali hanya
sebata kata-kata “aku menginginkan ranah kembara!”
tahukah kau andung mengapa hati perempuan lebih merah dari darah melunak
bijak saking pekat karena kepergian serupa tombak yang mengoyak rahim cinta
ketika tunas-tunas kian tumbuh dan tiba-tiba kacir landa dari benih asih
akar-akar kembar

tapi andung kaulah tunas yang tengah tumbuh dari ranah ibu
menjalar lalui batu-batu ke langit-langit tanpa tepi juga doa pasrah ibu mengarak
keberangkatanmu esok pagi kala matahari mengawai janji-janji rawan
menghantarmu pergi
episode pamit dan pulang kian kaprah samar
kalung lelaki tua tak pernah mengucap kalimat sakit lagi
bagi kawan perjalanan pada kembara ke negeri-negeri sepintas
kampung-kampung layung jalan-jalan yang mungkin mendung di ujung
dan dari derai kalbu airmata ibu menyeru, “tunaikan inginmu andung...
cukupkanlah perjalanan hingga kau mengucap pulang”


tiga, perjalanan

ini tentang sakit yang telah subur, andung
berwaktu-waktu di negeri basiang jadi musim yang enggan surut
kulit-kulit meletup bukit-bukit di sekujur orang-orang
kian sisik kian nanah meliuk jijik
kau bujang sempat tertunda kalakian tersiar ke astral dusun-dusun
membondong-bondong kalimat sakit yang melenyap di telempap saktimu. wahai
andung gegaskan segera
karena konon daksa putri raja lemah bangsai tak jua reda
tabib-tabib hanya jadi kisah muskil usai pasai nan usang di ujung istana

kalung lelaki tua memang tak sesia
percik doa dari keciprat bulir-bulir air rasuk merambat pada raut elok putri raja
mata beranjak rekah serupa kersip suluh melipat kelimut panjang di ranjang dan
bibir itu mengalun erang aubade sunyi
ia kini—sang putri menjelma seraut embun
pada telotak pagi hari

andung, di sinikah putri disunting?
tujuh malam tak henti-henti hingga udara riuh kian pekat
angin kian pucat dari ritus nikah penuh bahagia bagi duka paduka, dahulu
dan orang-orang beriak mengisar kerumun cawan-cawan pesta
melantun pantun-pantun ria

empat, kepulangan

ini tentang kabil yang telah sentak, andung
awal putri yang memendam hasrat kasturi bagi jabang bayi
perjalanan panjang cinta kekasih membawa gegau kepulanganmu yang lama tertunda menuju ranah ribang pondok ibu
tak kaulihatkan itu kasturi tumbuh merindang-ranum coklat tua
di halaman cinta ibu
di kampung lengang hutan lengang masih kecil dan miskin juga
waktu yang bertahun-tahun kautinggalkan
kini ia renta tua berdebu hanyut dalam konon janji-janji rawan
tapi kau alpa. ia menyeru tunas yang dahulu mengakar di rahim suci dibenih asih
dari sisa matahari dan jejak bulan kelimut malam kini mendewasa, “andung...
andung anakku...” namun balas kaurajamkan ucap palsu dan ingkar
(karena malu)
pada tubuh lusuh renta itu
ia sangsai, andung. hatinya paya kian tawar lalu kadar mana hendak
dilaknat-alamatkan padamu jika hati ibu memeram
murka?

langit-langit muram meletuskan dahanam kilat-kilat penuh siasat. kini badai murka telah datang padamu andung serupa gelimun perang
di kancah gelanggang
di kampung lengang hutan lengang masih kecil dan miskin juga
tapi kau ingat dan terlambat. angin-angin berang memiuhmu dalam duka yang
tamat jadi ringkuk bangkai batu. matahari mati dan jejak bulan terhapus jua
rintihmu hanya mengalun sendu
dan beku





bumi singgah,
2007

Sihir Sunyi


sihir senja mengusap sunyi bubun ingatanku saat kelabu
adakah kenangan meninggalkan rinduku di ujungujung jalanmu?
rindu membadai dalam jisimku yang ringkuh
sepiku sesak dengan sajaksajak perjalanan tak usai
kau, di ujung mataku membiru mengadu sendu
bercerita tentang ikanikan yang menyeberang mimpi dan sepi
berkisah ihwal waktuwaktu yang diburu cuaca dan gerimis tipis

kini aku hanya duduk memendam rindu yang kalut
bersama matamata gelap yang ditembak buta pemburu
kutahu sunyi tak akan menyakitiku, bahkan menyentuhku
tapi, adakah sebongkah sapamu yang singgah di bibirku?

sunyi inilah yang membawakan pisau rindu ke jantungku
mengirisngiris tubuhku yang rapuh
memahat ingatanku terlalu dalam dan jatuh
nadinadiku yang bersimpuh di bara api
kulitkulitku yang melepuh disayat matahari

ada yang masih ingin kugenggam di sunyi rumahmu
ada kabar yang masih ingin kuceritakan padamu
perihal debudebu yang menari di lekuk tubuhku saat petang
dan menjadi cahaya lilin ketika malam jelang
mungkin hanya aku seorang diri yang dicemburui sunyi
yang mengasuhmu tanpa lelah dan kesah

kini aku berdiam diri di depan pintu rumahmu
hanya diam dan menunggumu keluar



bumi singgah,
2005

Sirkus Sunyi


seperti resah yang tibatiba menyergap
orangorang kesiangan di pagi buta
tanpa cuaca
tanpa duga datang menyapa
tak ada geletak tapak kuda di relrel kereta
atau badutbadut tua yang bermain bolabola api
dalam badai berkabut

hei! si dungu kembali menyilang
tongkattongkat ingatan di sudut bangku penonton,
bersembunyi seperti harimau kehilangan bulu
ingin dijaringnya ikanikan terbang yang
menabur riuh kebun binatang

ada bocah berperut buncit, menjilat
permen loli dengan lidah putih
“rasanya pahit, ya nak?”
ibunya berkerut kening sambil menjahit
luka di lutut kanannya
dan ayah sedang asyik bermain
kelamin

tapi pagi itu matahari belum mati
sembul kepalakepala di jendela, mengirim pesan
pada hujan ayunan
pada lonceng terakhir di gereja

“aku tak mau mati di tahun baru, bu!”
dipeluknya bonekaboneka masa dan
dadudadu kenangan
lalu berlari menyeruak ke taman kota
bermain dengan sunyi,
lalu pelanpelan tenggelam





bumi singgah,
desember 2005

Fragmen Perjalanan Putus-putus


: dari gerutu hujan; Heri Maja Klana


aku tak datang bersamamu ketika senja melindap
peron memalam. kau bergumam tentang sejarah para penyair.
singgung senyumku mengintai jarak waktu. “jangan khawatir,
rahimku masih lentur.
katakata tak akan mati karena ia menjelma fetus
bagi kelahiran sajaksajak kita!”
kamar kian ricuh oleh derap
gempita pesta hujanhujan. relrel tua mungkin menjejak
pada kisah yang akan kaucatat rapi nanti dalam
fragmen perjalanan putusputus

di yogyakarta,
sampaikan pada saut kecil bahwa tuhan telah bicara
namun sebaliknya diam ketika ia bicara. maka menggonjonglah
sajaksajaknya
di pasar lama
jika pelacur para dewa menjelma di sana
sayapsayapnya tak patah. limpapas terhempas ke dadanya
ia menjelma perempuan paling suci dari sri, paling dipuja sahaya
memiuh gelora paling nasfu dari sesak sepasang bukit kuldi
o, perempuan mana yang akan kaupinang?
tak ada kisah platonik tentang cinta di sini, hanya permainan
biasa seperti malam mengejar bulan ditelisik pohonan
berpeluh menjaring rindu

sekian perjalanan. kuminta darimu sepenggal sajak
maka genaplah
walau putusputus. dari gerutumu kala senja itu. tak selesai dari
satu kota ke kota lainnya
dari satu jalan ke jalan lainnya.
dan sajak itu menulis sepatah tubuhmu tergesagesa
di kereta. tentang waktu yang menguras
kenangan yang kaupahat di kota asalmu. cinta yang diam
pada alamat pulang ke kemalaman
dan cerobong kian pekat memahat pahit
ingatanmu. merundung bisu
masihkah seutas sajak kan betah telusuri makna
perjalananmu
ketika malam hujan di malioboro?



bumi singgah,
2007