satu, hutan lengangini tentang hutan yang telah dewasa, andung
hijaukan kampung yang masih jarang. masih kecil dan miskin. juga
setelah ayahmu pamit tempo hari dari hutan-hutan fana
dan lengang kalakian jadi epitaf yang terpahat rapi di catatan perjalananmu
berikutnya
waktu tak gulana seperti jua kau tak mengeluh tentang nasib, pun ibumu
sebagaimana nasib tertanam di hutan menjelma gudang-gudang kayu bakar,
kebun-kebun buah dan ladang-ladang sayuran
kersak rerumput belukar menjejak rintis pintu reranting jendela
dan rimbun dedaun atap kian sorak-riang menyambutmu dalam musim
berangkat dan pulang
hari jadi siang kau menepi ke pasar-pasar. hari jadi petang jadi esok jadi lusa
tanpa kesah atau lelah. begitulah juga kemudian, andung
kausapu asuh jari jemari kisut ibumu pada tiap jenjang waktu
hutan tak berkunci. orang-orang gegas masuk ke dalam sunyi
dan bukankah kala petang ia—hutan berubah seraut misteri?
kau ingat lenguh kalimat tertinggal di nun, “ibu sakit andung... susurilah sunyi
sendiri”
dan dalam alamat pulang kaudengar jeritan lelaki tua itu
melempar gaung lewati bebatang pohon menubi gendang telingamu
oi andung! temukanlah lantun dendang sakitku dari banir jerit kaki yang
terhimpit!
kini atma mengharu dari jeri lelaki tua pada akar pasak bumi,
mengunci. pepohon kembali ribang-lindap sendiri pada kelu musim sunyi
lelaki tua berkata, “dan seutas kalung ini untukmu andung”
cuaca meragu di raut lugu di simpang jalan pada pertemuan nan asing
usah resah karena halau waktu dari gelimun ragu adalah membagi kisah yang
tak pernah kau tahu
ambillah dan kabarkan pada kepulangan yang terlambat dari ranap penantian
karena cemas ibu serupa riwan jentaka di pondok rindu
dua, kepergianini tentang rantau yang telah tumbuh, andung
tak ubahnya kota yang menggelembung di angan-anganmu tentang judi nasib
tentang dahagi peta-peta yang belum terbaca dari sisa matahari dari jejak bulan di mimpi kampungmu maka malam kisruh pada tangis ibu
hingga kembara yang konon melepas anak-anaknya pergi tak jua kembali hanya
sebata kata-kata “aku menginginkan ranah kembara!”
tahukah kau andung mengapa hati perempuan lebih merah dari darah melunak
bijak
saking pekat karena kepergian serupa tombak yang mengoyak rahim cinta
ketika tunas-tunas kian tumbuh dan tiba-tiba kacir landa dari benih asih
akar-akar kembar
tapi andung kaulah tunas yang tengah tumbuh dari ranah ibu
menjalar lalui batu-batu ke langit-langit tanpa tepi juga doa pasrah ibu mengarak
keberangkatanmu esok pagi kala matahari mengawai janji-janji rawan
menghantarmu pergi
episode pamit dan pulang kian kaprah samar
kalung lelaki tua tak pernah mengucap kalimat sakit lagi
bagi kawan perjalanan pada kembara ke negeri-negeri sepintas
kampung-kampung layung jalan-jalan yang mungkin mendung di ujung
dan dari derai kalbu airmata ibu menyeru, “tunaikan inginmu andung...
cukupkanlah perjalanan hingga kau mengucap pulang”
tiga, perjalanan
ini tentang sakit yang telah subur, andung
berwaktu-waktu di negeri basiang jadi musim yang enggan surut
kulit-kulit meletup bukit-bukit di sekujur orang-orang
kian sisik kian nanah meliuk jijik
kau bujang sempat tertunda kalakian tersiar ke astral dusun-dusun
membondong-bondong kalimat sakit yang melenyap di telempap saktimu. wahai
andung gegaskan segera
karena konon daksa putri raja lemah bangsai tak jua reda
tabib-tabib hanya jadi kisah muskil usai pasai nan usang di ujung istana
kalung lelaki tua memang tak sesia
percik doa dari keciprat bulir-bulir air rasuk merambat pada raut elok putri raja
mata beranjak rekah serupa kersip suluh melipat kelimut panjang di ranjang dan
bibir itu mengalun erang aubade sunyi
ia kini—sang putri menjelma seraut embun
pada telotak pagi hari
andung, di sinikah putri disunting?
tujuh malam tak henti-henti hingga udara riuh kian pekat
angin kian pucat dari ritus nikah penuh bahagia bagi duka paduka, dahulu
dan orang-orang beriak mengisar kerumun cawan-cawan pesta
melantun pantun-pantun ria
empat, kepulangan
ini tentang kabil yang telah sentak, andung
awal putri yang memendam hasrat kasturi bagi jabang bayi
perjalanan panjang cinta kekasih membawa gegau kepulanganmu yang lama tertunda menuju ranah ribang pondok ibu
tak kaulihatkan itu kasturi tumbuh merindang-ranum coklat tua
di halaman cinta ibu
di kampung lengang hutan lengang masih kecil dan miskin juga
waktu yang bertahun-tahun kautinggalkan
kini ia renta tua berdebu hanyut dalam konon janji-janji rawan
tapi kau alpa. ia menyeru tunas yang dahulu mengakar di rahim suci dibenih asih
dari sisa matahari dan jejak bulan kelimut malam kini mendewasa, “andung...
andung anakku...” namun balas kaurajamkan ucap palsu dan ingkar
(karena malu)
pada tubuh lusuh renta itu
ia sangsai, andung. hatinya paya kian tawar lalu kadar mana hendak
dilaknat-alamatkan padamu jika hati ibu memeram
murka?
langit-langit muram meletuskan dahanam kilat-kilat penuh siasat. kini badai murka telah datang padamu andung serupa gelimun perang
di kancah gelanggang
di kampung lengang hutan lengang masih kecil dan miskin juga
tapi kau ingat dan terlambat. angin-angin berang memiuhmu dalam duka yang
tamat jadi ringkuk bangkai batu. matahari mati dan jejak bulan terhapus jua
rintihmu hanya mengalun sendu
dan beku
bumi singgah,
2007